TEMANGGUNG,suaramerdekakedu.com– Sebuah gerakan pendidikan alternatif muncul di tengah masyarakat Kabupaten Temanggung dengan nama Universitas Balakarta. Mengambil lokasi di sebuah bangunan yang sebelumnya terbengkalai di Salamsari, Kedu, lembaga ini berupaya memutus jarak antara dunia akademik dengan realitas kehidupan masyarakat pedesaan.
Universitas Balakarta didirikan oleh Khoirul Atfifudin (25) bersama rekan-rekannya sebagai bentuk tanggung jawab intelektual anak muda terhadap daerah asalnya. Gerakan ini hadir untuk memberikan wadah bagi masyarakat yang ingin mendalami ilmu pengetahuan tanpa harus terikat pada formalitas institusi pendidikan konvensional.
Menjadi Jembatan Intelektual Masyarakat
Fatih (22), salah satu penggerak Universitas Balakarta, menjelaskan bahwa pendirian lembaga ini berawal dari keresahan melihat konsep kampus yang selama ini identik dengan gedung megah namun sering kali belum menyentuh lapisan masyarakat bawah.
Kami melihat ada kesan bahwa kampus itu harus berada di menara gading, tapi dampaknya justru belum dirasakan langsung oleh masyarakat desa. Balakarta hadir untuk menjadi jembatan bagi warga yang tidak memiliki kesempatan berkuliah agar mereka tetap bisa mengenal sisi intelektualisme dan merawat kondisi psikologis mereka melalui ruang diskusi yang inklusif,” ujar Fatih saat diwawancarai.
Hal ini sejalan dengan Manifesto Balakarta yang menyatakan bahwa universitas ini adalah sebuah movement pendidikan alternatif di kalangan akar rumput. Nama “Universitas” dipilih karena dianggap lebih mewakili peranan penting bagi kemajuan daerah dibandingkan sekadar label komunitas atau aliansi.
Metode Pembelajaran dan Dampak Sosial
Sejak beroperasi secara permanen di Kampung Nogo pada awal November 2025, Universitas Balakarta menerapkan metode yang unik, salah satunya adalah “Kuliah Tongkrongan”. Dalam sesi ini, pembicara disebut sebagai “Dosen” dan moderator sebagai “Asisten Dosen” untuk tetap menjaga suasana akademik di tengah diskusi yang santai.
Kehadiran lembaga ini mulai memberikan dampak positif yang nyata bagi warga sekitar. Selain mengubah bangunan “angker” menjadi ruang produktif, masyarakat kini mulai aktif berkontribusi dengan menyumbang makanan atau tanaman sebagai bentuk dukungan.
Dampak positifnya adalah siapapun kini bisa menemukan ruang baru. Contohnya, ada seorang ibu rumah tangga yang akhirnya menemukan teman untuk berdiskusi dan membaca buku, sesuatu yang sebelumnya tidak ditemukan di tempat lain, tambah Fatih.
Mengawal Isu Daerah dan Kebijakan Publik
Selain sebagai ruang literasi, Universitas Balakarta juga aktif dalam mengamati dan mengkritisi kebijakan pemerintah daerah. Fatih menekankan bahwa pihaknya secara konsisten membangun kesadaran politik di masyarakat, seperti pentingnya mengawal jalannya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) untuk mencegah terjadinya kecurangan.
Kritik juga diarahkan pada persoalan infrastruktur di Kabupaten Temanggung. Universitas Balakarta menyoroti masalah minimnya penerangan jalan umum serta kondisi jalan rusak yang masih banyak ditemukan di berbagai titik kabupaten.
Filosofi Balakarta sendiri terinspirasi dari suasana diskusi informal di kedai kopi saat masa skripsi, yang kemudian dikembangkan menjadi ekosistem agar masyarakat memiliki keterampilan di bidang tertentu, mampu memimpin, serta kritis terhadap realitas sosial yang ada.
Dengan semangat mandiri, Universitas Balakarta membuktikan bahwa inisiatif perubahan tidak harus menunggu intervensi pemerintah, melainkan bisa dimulai dari tingkat lokal untuk menciptakan masyarakat yang lebih terdidik dan peduli terhadap isu-isu populer di lingkungan mereka. (hil)
















































