WONOSOBO, suaramerdekakedu.com – Keberadaan bangunan vila ilegal yang berdiri di kawasan atas Telaga Menjer kini menjadi sorotan tajam. Pembangunan vila bertingkat berbahan beton di atas lahan pertanian dan kawasan lindung tersebut dinilai tidak dibenarkan secara aturan tata ruang, sehingga operasionalnya perlu segera dihentikan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Wonosobo, One Andang, mengakui bahwa mayoritas usaha di kawasan tersebut memang belum mengantongi izin resmi dan dalam waktu dekat akan dilakukan evaluasi menyeluruh.
”Dijelaskan dari 56 kegiatan usaha pariwisata yang kita bina, baru 10 yang mengajukan OSS. Itu pun berhenti di situ, tidak dilanjutkan. Sementara kondisinya semua sudah terbangun dan beroperasi,” jelas Andang.
Kekhawatiran publik mengenai lemahnya pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan lindung tersebut semakin menguat setelah terjadinya insiden tanah longsor di bawah Vila Orion. Namun, hingga saat ini kepastian legalitas perizinan bangunan tersebut masih simpang siur.
“Kayaknya belum, saya belum tahu pasti. Datanya masih akan dikonfirmasi ke dinas teknis perizinan,” kata Andang.
Ancaman Sedimentasi PLTA Di sisi lain, maraknya aktivitas di sekitar telaga juga membawa ancaman serius berupa sedimentasi yang berpotensi mengganggu kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Garung. PT PLN Indonesia Power (IP) Mrica Power Generation Unit (PGU) pun tengah menyiapkan langkah-langkah antisipasi.
General Manager PT PLN Indonesia Power Mrica PGU, Nazrul Very Andhy, mengungkapkan bahwa material sedimentasi kini diperparah oleh aktivitas manusia, termasuk temuan biota tertentu yang dapat mengotori mesin pembangkit.
“Secara kuantitas memang masih minim, tetapi jika tidak diantisipasi sejak awal bisa mengganggu kinerja turbin. Karena itu pengerukan menjadi langkah strategis,” ujarnya.
Menurut Nazrul, PLTA Garung saat ini sangat bergantung pada debit air Telaga Menjer. Namun, tingginya beban sampah yang masuk ke kawasan air menjadi kendala operasional yang cukup berat bagi pihaknya.
“Ini menunjukkan tekanan dari luar kawasan telaga cukup besar. Sampah banyak tertahan di lereng-lereng dan kabin air. Jika terjadi longsor, beban sedimentasi akan langsung menumpuk di pintu air dan berdampak serius pada operasional PLTA,” jelas Nazrul.
Menanggapi rumor yang beredar di media sosial terkait penyebab longsor di kawasan tersebut, Nazrul memberikan klarifikasi bahwa sarana infrastruktur milik Indonesia Power dalam kondisi baik.
“Kondisi pipa IP aman dan terpantau. Longsor lebih dipengaruhi oleh kondisi struktur tanah dan tata guna lahan di sekitar telaga,” tegasnya. (hil)

















































