MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Magelang kembali menjadi sorotan. Sebanyak 75 siswa dan lima guru SMPN 10 Kota Magelang, serta sejumlah siswa SMAN 3 Kota Magelang, dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap menu yang dibagikan pada Rabu (21/1/2026).
Insiden ini menambah daftar panjang kasus keracunan massal yang menuntut pengawasan ketat terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan pihak penyuplai bahan baku makanan.
Kepala SMPN 10 Kota Magelang, Sri Mulyani, menjelaskan bahwa gejala mulai nampak secara massal pada Kamis (22/1/2026). Awalnya, hanya dua siswa yang mengeluh sakit perut dan dibawa ke UKS, namun jumlahnya terus bertambah setelah jam istirahat.
“Tercatat kurang lebih 75 siswa dan 5 orang guru mengalami keluhan sakit perut,” ujar Sri Mulyani.
Pihak sekolah segera berkoordinasi dengan puskesmas terdekat untuk memberikan penanganan medis. “Pihak puskesmas juga mengambil sampel feses dan muntahan,” imbuhnya. Sampel tersebut kini telah dikirim ke Laboratorium di Semarang untuk uji klinis.
Sebagai langkah antisipasi, distribusi MBG di sekolah tersebut dihentikan sementara. “Anak-anak kita minta membawa bekal sendiri sambil menunggu hasil pemeriksaan dari dinas kesehatan. Kami belum bisa menyimpulkan apapun sebelum hasil lab keluar,” tegas Sri Mulyani.
Telur Puyuh Jadi Sorotan
Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Magelang, Larsita, membenarkan adanya dugaan keracunan tersebut. Berdasarkan hasil investigasi awal terhadap SPPG Rejowinangun Utara yang mendistribusikan 1.853 porsi makanan ke tiga sekolah, menu telur puyuh saus mentega menjadi kecurigaan utama sebagai penyebab.
Larsita mengungkapkan bahwa telur puyuh sebanyak 97 kilogram diterima dapur dari penyuplai dalam kondisi sudah matang dan dikupas pada Selasa (20/1/2026) malam pukul 23.00 WIB.
“Informasi yang kita terima, telur diterima dalam kondisi hangat dan terbungkus plastik wrapping. Tidak disimpan di chiller, hanya dibiarkan di suhu ruang. Mulai pemrosesan pada Rabu (21/1/2026) pukul 03.00,” jelas Larsita.
Hasil wawancara menunjukkan sekitar 24,08 persen responden menyatakan rasa telur puyuh tersebut sudah tidak enak. Selain di SMPN 10, kasus serupa ditemukan di SMAN 3 Magelang.
“Selain SMPN 10, surveilans Puskesmas Magelang Tengah juga menerima laporan adanya siswa SMAN 3 Magelang yang mengalami keluhan serupa setelah mengonsumsi MBG pada hari yang sama,” tambahnya.
Gejala klinis yang mendominasi di antaranya adalah sakit perut (88 persen), diare (74 persen), dan perut melilit (58 persen). Saat ini, Dinas Kesehatan tengah menunggu hasil pemeriksaan lanjutan dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah di Semarang.
“Proses investigasi masih berjalan. Kami juga akan melanjutkan pemeriksaan terhadap penjamah makanan, analisis data, serta menetapkan status dan respon setelah seluruh hasil laboratorium diterima,” ucap Larsita. (hil)

















































