TEMANGGUNG. suaramerdekakedu.com – Ribuan warga Desa Tlogopucang, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, kembali memadati area pemakaman yang disepuhkan oleh masyarakat Desa Tlogopucang. Konon, makam ini adalah makam seorang pejuang penyebar dakwah Islam di lingkungan desa setempat yang dikenal; sebagai sosok Simbah Kiai Kramat. Kegiatan adat yang dibalut dengan nuansa Islami ini dilaksanakan dalam rangka menggelar tradisi tahunan Nyadran atau yang akrab disebut warga setempat sebagai Metokan.
Tradisi ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan perwujudan rasa syukur atas melimpahnya hasil bumi serta bentuk penghormatan kepada para leluhur (punden) desa.
Simbol Rasa Syukur dan Kebersamaan
Puncak acara ditandai dengan arak-arakan ratusan Tenong (wadah anyaman bambu) yang dibawa oleh kaum ibu. Tenong tersebut berisi berbagai macam penganan tradisional, nasi gurih, dan ingkung ayam. Setelah doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, warga kemudian makan bersama di sepanjang jalan desa dan pelataran makam.
“Metokan ini adalah warisan turun-temurun. Maknanya ‘metu’ atau keluar, maksudnya mengeluarkan sedekah sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT dan mengirim doa untuk para pendahulu kami,” ujar salah satu tokoh masyarakat Desa Tlogopucang.
Sealin itu, kegiatan Nyadran atau metokan ini juga sebagai upaya dalam menjaga ukhuwah atau rasa persaudaraan antar sesama warga desa dengan kegiatan doa, makan, serta sarana kasih sayang antar sesama penduduk. Selain itu, juga agar generasi muda tidak melupakan tradisi yang telah diwariskan oleh leluhur (punden) desa setempat..
“Metokan ini diharapkan dapat memupuk tali persaudaraan sesama warga, khususnya generasi pemuda wilayah Desa Tlogopucang agar tidak melupakan tradisi yang telah diwariskan turun temurun oleh leluhur kami” Ujar Nasof Bandi. salah seorang penggerak pemuda wilayah Desa Tlogopucang.
Unsur Budaya yang Kental
Selain doa bersama, kemeriahan Nyadran di Tlogopucang juga kerap diwarnai dengan:
- Pembersihan Makam: Gotong royong warga membersihkan makam keluarga dan area keramat.
- Makan bersama dengan makanan khas berupa ingkung dan nasi bucu (tumpeng) Ingkung dan nasi bucu (tumpeng) adalah dua komponen utama dalam kuliner tradisional Jawa yang sarat akan nilai filosofis, doa, dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Tradisi Metokan ini memiliki peran penting dalam mempererat tali persaudaraan (guyub rukun) antar warga. Selain itu, kegiatan ini juga menggerakkan ekonomi lokal melalui pasar kaget yang muncul di sekitar lokasi acara.
Meskipun zaman terus berganti, masyarakat Desa Tlogopucang berkomitmen untuk terus menjaga tradisi ini agar identitas budaya Temanggung tetap lestari dan dikenal oleh generasi muda. (hil)

















































