TEMANGGUNG, suaramerdekakedu.com– Budaya tingwe atau nglinting dhewe (melinting sendiri), yang selama ini identik dengan kebiasaan kaum tua di pelosok desa, kini mengalami pergeseran tren. Di tangan anak muda, khususnya di wilayah “Kota Tembakau” Temanggung dan kota pelajar Yogyakarta, aktivitas melinting tembakau justru menjadi gaya hidup baru sekaligus solusi ekonomi di tengah meroketnya harga rokok pabrikan.
Secara historis, kebiasaan melinting tembakau memang telah berakar kuat sejak akhir abad ke-15. Dalam catatan Lance Castles melalui bukunya Industri Rokok Kudus (1982), tingwe sempat menjadi simbol rakyat kelas bawah pada masa kolonial karena ketidakmampuan membeli rokok pabrikan. Namun kini, stigma “rokok orang tua” itu perlahan luntur.
Momentum Pandemi
Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin, mengungkapkan bahwa kebangkitan tren tingwe di kalangan anak muda mendapat momentum besar saat pandemi Covid-19 melanda. Kebijakan pembatasan sosial memberikan ruang bagi para perokok muda untuk mengeksplorasi cara menikmati tembakau secara mandiri.
“Dulu, anak muda di Temanggung mungkin masih malu-malu membawa tembakau saat nongkrong. Mereka lebih memilih rokok pabrikan. Namun pasca-pandemi, tingwe seolah mendapat tempat di hati perokok muda,” ujar Atfi.
Senada dengan hal tersebut, Tatag Dhian (30), seorang pemasok tembakau asal Temanggung, mengakui adanya peningkatan permintaan tembakau untuk area Yogyakarta selama masa pandemi. Hal ini sekaligus menjadi angin segar bagi para petani tembakau yang sempat terdampak lesunya penjualan pada awal 2020.
Faktor Ekonomi dan Personalisasi Rasa
Bagi banyak mahasiswa dan pekerja muda, beralih ke swalinting adalah strategi bertahan hidup atau “jalan ninja” menghadapi kenaikan pita cukai rokok. Oteng (19), seorang mahasiswa asal Salamsari, Kedu, yang kini menempuh studi di Yogyakarta, menyebut faktor efisiensi biaya sebagai alasan utama.
“Harga rokok sekarang sudah di atas Rp25 ribu per bungkus. Jika seminggu habis empat bungkus, pengeluaran mencapai Rp100 ribu. Dengan tingwe, modal Rp50 ribu sudah cukup untuk kebutuhan hampir dua minggu,” ungkap anak petani tembakau ini.
Selain urusan dompet, aspek “seni” dalam mencampur tembakau juga menjadi daya tarik tersendiri. Para penikmat tingwe merasa memiliki kebebasan untuk mengatur rasa sesuai suasana hati (mood).
“Kalau rokok pabrikan rasanya flat, itu-itu saja. Dengan tingwe, kita bisa memilih jenis tembakau, berat atau ringannya hisapan, hingga campurannya. Tidak ada rasa bosan karena kita yang menentukan takarannya sendiri,” tambah Atfi.
Fenomena ini membuktikan bahwa tingwe bukan lagi sekadar warisan masa lalu yang usang, melainkan sebuah bentuk adaptasi budaya dan ekonomi yang kembali relevan di tangan generasi muda. (HIL)

















































