TEMANGGUNG, suaramerdekakedu.com – Suasana haru menyelimuti lapangan Desa Tuksongo, Borobudur, pada Senin (12/1). Pohon Randu Alas raksasa yang telah berdiri kokoh selama ratusan tahun dan menjadi identitas visual desa tersebut akhirnya harus ditebang.
Sebelum gergaji mesin mulai bekerja, warga setempat menggelar prosesi adat dan ritual selamatan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada pohon yang dianggap sebagai penjaga lingkungan Desa Tuksongo.
Penebangan ini bukan tanpa alasan yang mendesak. Berdasarkan hasil kajian tim teknis dan aspirasi warga, kondisi pohon yang sudah sangat tua mulai menunjukkan tanda-tanda pelapukan pada dahan-dahan besarnya. Mengingat lokasinya yang berada tepat di pinggir lapangan publik yang sering menjadi pusat kegiatan warga dan wisatawan, risiko dahan patah atau pohon tumbang secara tiba-tiba menjadi ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat.
Momen perpisahan ini juga dihadiri oleh komunitas seniman lokal yang ingin mengabadikan sisa-sisa kegagahan sang pohon. Sambil menunggu proses penebangan dimulai, para pelukis tampak sibuk menggoreskan kuas di atas kanvas, menangkap siluet Randu Alas tersebut untuk terakhir kalinya.
Pendokumentasian ini dianggap penting agar nilai sejarah dan memori kolektif warga Tuksongo terhadap ikon alam tersebut tidak hilang begitu saja meski fisiknya sudah tidak ada.
Kepala Desa Tuksongo, Bapak Sutaryo, menyampaikan bahwa keputusan ini merupakan langkah berat yang harus diambil demi kepentingan bersama. “Pohon ini punya sejarah panjang bagi kami, bahkan sudah ada sebelum kakek-nenek kami lahir. Namun, kami tidak ingin ada korban jiwa jika suatu saat dahan besarnya roboh menimpa warga. Ritual yang kami lakukan adalah cara kami berpamitan dengan alam,” ungkapnya saat ditemui di lokasi.
Di sisi lain, salah satu seniman yang hadir, Agus Windu, memberikan pandangannya mengenai nilai filosofis pohon tersebut. “Bagi kami, pohon ini bukan sekadar kayu, tapi sumber inspirasi. Meski ditebang, spiritnya tetap hidup lewat karya-karya yang kami buat hari ini. Kami berharap pemerintah desa bisa menggantinya dengan bibit baru agar kelak generasi mendatang punya ikon serupa yang bisa mereka banggakan,” tuturnya sembari menyelesaikan lukisannya.
















































