TEMANGGUNG, suaramerdekakedu.com -Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Temanggung melaporkan temuan mengkhawatirkan terkait ancaman kerusakan lingkungan seluas 13.000 hektare per Januari 2026. Lahan kritis tersebut tersebar di wilayah lereng tiga gunung utama, yakni Sindoro, Sumbing, dan Prahu. Kondisi ini memicu urgensi penanganan serius guna mencegah bencana ekologis yang lebih besar di masa depan.
Penyebab meluasnya lahan kritis diidentifikasi akibat praktik pertanian sayuran yang mengabaikan aturan konservasi lingkungan. Banyak petani Temanggung sempat melakukan penanaman dengan sistem terasering yang memadai.
Selain itu, petani setempat melakukan penebangan pohon secara memadai guna membuka lahan baru. Pola tanam yang kurang tepat ini menyebabkan lapisan tanah atas (top soil) mudah tergerus saat intensitas hujan tinggi.
Kepala DLH Kabupaten Temanggung menegaskan bahwa kerusakan di area hulu tersebut akan berdampak langsung pada kesediaan air dan risiko tanah longsor bagi warga di bawahnya.
Perubahan fungsi lahan dari hutan menjadi ladang terbuka tanpa vegetasi keras mempercepat laju degradasi tanah secara signifikan. “Jika kita tidak segera bertindak sekarang, kita sedang mewariskan bencana kekeringan dan longsor bagi generasi mendatang,” ujar perwakilan DLH saat memaparkan hasil pemetaan.
Sebagai solusi aktif Pemkab Temanggung menggagas progam “Sabuk Gunung” yang melibatkan kolaborasi aktif dengan komunitas petani. Melalui skema ini, para petani didorong untuk menanam pohon keras di sela-sela tanaman musiman guna memperkuat struktur tanah dan menahan laju erosi. Program ini bertujuan mengembalikan fungsi lindung lereng gunung tanpa mematikan roda ekonomi masyarakat agraris.
Keberhasilan program konservasi ini sangat bergantung pada perubahan pola pikir petani dalam mengelola lahan di ketinggian. DLH terus melakukan edukasi agar prinsip ekonomi dan ekologi dapat berjalan berdampingan demi keberlanjutan lingkungan di lereng Sumbing, Sindoro, dan Prahu. Pemerintah berharap skema Sabuk Gunung ini mampu memulihkan belasan ribu hektare lahan kritis tersebut dalam beberapa tahun ke depan.

















































